MEMBUNGKUS LUKA DENGAN CINTA

  MEMBUNGKUS LUKA DENGAN KEIKLASAN DALAM CINTA

By. Shima Koerilma

Waktu itu tahun 1999 tepat 9 Maret, aku berbaring pasrah di brankas rumah sakit Bhayangkara Angkatan Laut Maospati Madiun. Saat brankas di dorong dua perawat memasuki ruang operasi, melewati dua orang yang aku kenal, terdengar sekilas percakapan menyebut nama suamiku.

“Soni di bawa ibunya ke Jakarta, di suruh menikahi wanita…”

Bagaikan petir, tiba-tiba kepalaku terasa berat, dada terasa sesak, seakan sakral maut menjemput. Aku merasakan banyak tangan memasang perlengkapan operasi di tubuhku seakan tak bernyawa, Bayangan orang berbaju putih sliweran di sekeliling brankas di mana aku berbaring, terasa tusukan jarum di punggung belakang dan infus ditangan kiri, dalam sekejap mataku kabur dan gelap.

Kejadian tahun sama 1999 bulan Pebruari.

“Allaaahhh huuaakbaarrr…!” terdengar jelas aba-aba darurat dari corong mushola. 

Aku dan mas Soni langsung bangun mengangkat tas ransel di taruh bagian depan, tidak lupa clurit sudah di tangan kananku, begitu juga suami memegang dua parang di tangan kanan dan kiri. Saat itu dada berdebar hebat, kaki gemetar, bayangan darah berceceran di mana-mana sekilas melintas di pikiran. “Ya Allah lindungi kami.” Bathinku. 

Terdengar penghuni kamar sebelah keluar, kamipun juga keluar kamar. Akhirnya para wanita kumpul di dapur dan para laki-laki siaga di ruang tamu, apabila  ada yang menyerang, para wanita bisa segera lari melalui pintu belakang menuju pabrik triplek. 

“Mas, aku ingin pulang ke jawa.” Pintaku pada suami sebelum aku melangkah ke dapur.

“Kalau pulang ke jawa kita pasti pisah, Mah.” Jawabannya dia membuat aku bingung, tetapi keadaan darurat, aku lupakan sejenak dan melangkah menuju dapur. 

Satu minggu kemudian.

“Mah, besok kita pulang ke jawa, persiapkan kesehatan kamu dan bayi dalam kandungan, empat hari tiga malam kita akan di kapal.” Ujar suami saat pulang dari bekerja.

“Terima kasih mas Soni.” Jawabku singkat, sejak ucapan suami seminggu lalu sikapku berubah, aku lebih banyak diam, malas berbicara, yang ada dalam pikiran ingin pulang ke jawa, meskipun banyak masalah yang akan aku hadapi.

Esoknya aku dan suami sudah berkumpul di travel yang akan membawa kita ke Pelabuhan Yos Soedarso Ambon. Mobil kami berangkat dengan di kawal polisi, takut ada penyerangan mendadak di perjalanan, karena kita akan melewati hutan dan naik kapal very untuk penyebrangan dari Gemba ke kota besar Ambon. 

Sesampai Pelabuhan tampak lautan manusia berebut mendekat kapal untuk mengungsi. Banyak orang dari Buton membawa banyak barang, sehingga membuat kacau,  keadaan balkon kapal tiap dek penuh barang. “ Inikah akhir pisahanku dengan suami?” gumamku. 

Suami sudah di atas kapal membawa barang kami yang berat, sedangkan aku masih di bawah sambil menenteng tas kecil. 

“Pruiittt….!” Suara peluit pertanda kapal akan berangkat dan tali dan tangga bagian depan sudah di lepas, bagian belakang tepat di depanku belum di lepas.

“Tolong…minggir beta hamil besar, suami beta sudah di atas kapal, ijinkan beta naik.” Pintaku memelas pada polisi yang menghadang pintu tangga. “Ose tidak bisa naik kapal sudah mau jalan.” Jawab polisi itu dengan logat Ambon karena memang asli orang Ambon.

Tanpa berpikir panjang, aku rampas pistol yang di saku sabuk polisi,” Beta akan bunuh diri apabila tidak di ijinkan naik!” teriakku sambil menodongkan pistol ke kepala.

“Stoopp..! Silahkan ose naik, hati-hati beta jaga.” Jawab polisi itu sambil memberikan jalan naik ke atas, lalu lompat karena tangga sudah bergeser dari pintu kapal.

Sesampai di atas, aku di peluk suami tidak lama aku lepaskan pelukannya, dan berjalan masuk ke dalam menuju tempat satu travel. Saat itu pikiran sudah buntu, mulut tertutup rapat, duduk berdempetan dengan penumpang lain, aku raba perutku memastikan keadaan bayiku, karena tidak bergerak, “Alhamdullilah.” Gumamku. 

Sambil menunduk menatap garis-garis di telapak tanganku, ucapan almarhum ayah kembali menggema di ingatanku,” Nduk, setelah besar, jadilah wanita di selubungi hati iklas, karena apapun di dunia ini bernyawa maupun tidak hanya di pinjami Tuhan, cintailah segala apa yang kasih Tuhan dengan keiklasan, supaya saat di minta kembali, hatimu tidak terlalu terluka, jadi wanita kuat dan mandiri, karena kamu tunggal.” Pesan  ayah setelah masuk islma lalu sebulan kemudian meninggal.

Operasi berjalan lancar.

Saat membuka mata,  masih menyisakan pusing, badan terasa kaku, perut bagian bekas jahitan terasa nyeri. Aku raba perutku sudah kempes, berarti anakku sudah keluar dari rahim. Aku rasakan saat itu seperti lahir kembali, tidak ada kenangan sedikitpun di masa lalu, air matapun tak mampu keluar, dan mulut bingung mengucapkan apa.

“Selamat ya mbak, bayimu lahir sehat, tadi di adzani sama pak Tawar, maafkan dia, karena mas Soni kan muslim.” Celetuk lilis saat melihat aku sudah bangun.

“Iya tidak masalah, di mana bayiku sekarang, oh ya cewek atau cowok?” tanyaku.

“Cewek mbak, cantik, mbak mas Soni…

“Jangan bicarakan dia lagi, semua sudah menjadi takdir yang harus aku jalani, semua sudah iklas meski hatiku luka, aku tidak butuh penjelasan lagi.” Ujarku pada Lilis yang tampak bingung.

Perlu di garis bawahi. 

Manusia lahir sendiri, akan membangun sejarah hidup di sepanjang perjalanan. Sejarah itulah yang akan membuat manusia menjadi pribadi kuat, iklas dan sadarnya bahwa apapun di dunia hanya sementara, semua adalah pinjaman sewaktu-waktu di minta kembali, dan akan menghadap sang Illahi sendiri.

Tentang Penulis.

Shima Koerilma. Penulis lahir dan tumbuh besar di kota Madiun. Pernah menulis kumcer dan Novel. Pernah aktif di FLP-HK tahun 2005-2010. Seorang ibu tiga anak, saat ini di Hongkong kembali, dan aktif FLP-HK, selain aktif menulis di KBM app dan blogger. www.ShimaLee.com. Apabila menghubungi via e-mail: shimalee77@gmail.com






Tidak ada komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Assalamualaikum Hello Perkenalkan nama asli saya Agustin Kurniawati kelahiran kota Madiun. Biasa dipanggil Shima atau Ilma sementara ini tinggal di Hongkong. Hobby saya traveling, blusukan di pasar bisnis tradisional. Suka kuliner dan penikmat Caffe. Saya senang di ajak bekerja sama review produk, terutama dunia kuliner, fashion dan tempat wisata terutama di Hongkong. Mau kerja sama content writer atau placement, okay juga ya. Sangat terbuka ingin di review via Facebook, Blogger, Instagram, Twitter maupun TikTok, bagaimana? Lengkap kan..! Bagi ingin bertanya bisa via e-mail : shimalee77@gmail.com Terima kasih. Semoga bisa bekerja